Ada sedikit duka yang tertinggal saat terakhir ku melepas cium tangan ibunda tercinta. Setetes air mata mengalir di raut wajahnya yang sudah mulai keriput dan terbar sinar matahari. Ku ucap salam perpisahan dan dia melepas kepergian diiringi sejuta doa terlukis dalam hatinya. Oh ibu hari ini ku harus pergi lagi, memperjuangkan masa depanku masa depan keluarga kita. Terlalu haru kepergianku untuk dikenang.

Bagi ku hari ini sangat menguji kesabaran. Mulai dari dua kali salah naik mobil, sampai di kos kuncinya dibawa temen, pergi ke SUAKA sekrenya tutup, datang ke HIMKAS tidak ada orang satu pun, batrai HP habis, setelah ada charger-nya batrenya mati, mau pulang laptop update dulu nungguin satu jam, perut lapar sampai di kos tidak ada makanan, beli nasi goring keabisan, akhirnya dapat nasi goring di tempat yang jauh. Ah lengkap sudah deritaku hari ini dengan tidak menelpon dan SMS kamu ay memberi kabar keadaanku saat ini. Ku harap kamu mengerti saat baca catatan ini.

Namun aku masih bisa merasakan kenikmatan bisa makan sepiring berdua bersama kawanku Husen Umar Abdullah yang kelelahan selepas acara Orientasi Pengenalan Jurusan dan Kepemimpinan Mimpunan Mahasiswa Manajemen. Dan rasa sabarku yang tak sedikit pun mengeluh dengan hari ini malah aku sangat beryukur Allah selalu memberikan perhatiannya karena hari ini aku bisa menulis catatan dengan judul “Hari Ini Menguji Kesabaran”.

Ku harap esok mentari menyapa hanyat memberi semangat agar ku kuat menjalani hidup yang teramat sangat sebelum aku harus menutup mata pertanda dunia sudah tamat. Amin!

 

Bandung, 20 November 2011

“Suara hati karena sabar itu indah”