Perang Saudara Karena Harta

Oleh: Ray Victory

“Aaaaaa……!!!..” tiba-tiba terdengar suara jeritan seorang gadis di ambang pintu kamar mandi.

Mendengar itu semua yang ada di rumah terbangun dari tidurnya yang nyenyak. Seorang pembantu dari kamar menampakkan wajah dari balik gorden. Perempuan setengah baya yang masih kusut dengan penampilannya datang melihat apa yang terjadi. Pemuda berkacamata melangkah lebar di ikuti istrinya yang terbirit menyamakan langkah dengan lelaki di depannya.

Seorang gadis  yang tadi berteriak tiba-tiba menangis histeris mukanya ia tutup dengan kedua tangannya.

“Astagfirulloh aladzim…….!!!” Seorang wanita setengah baya  yang ternyata ibu anak-anaknya kaget seakan hidupnya disambar petir.

Seorang pembantu yang setengah kaget tiba-tiba merangkul gadis yang trauma itu. Tak ketinggalan pasangan suami-istri itu mengepresikan kekagetannya.

“Bapak……..!!!!!!!” panggil seorang pemuda itu dengan nada kaget.

Nampak didepan mereka tepatnya di dalam kamar mandi berukuran dua kali dua meter seorang laki-laki tua yang rambutnya mulai memutih termakan usia sedang ambruk di atas lantai di samping bak mandi, tubuhnya sudah nampak tanpa busana mungkin karena dia akan mandi.

Suara gemerincik air yang mengalir dari Shower membasahi sebagian tubuhnya tanpa henti.

Pemuda itu kemudian mematikan keran showernya, ibunya lari menghampiri sosok yang terkapar ternyata dia suaminya.

“Pak…..Pak…..! bangun Pak….”. Pintanya mengusap kening laki-laki tersbut yang ternyata telah menjadi jasad tak bernyawa.

Pemuda itu lalu mengambil handuk yang menggantung kemudian menutupi sebagian tubuh ayahnya.

“Sabar Bu……!!!!” Ucap istri pemuda itu yang bernama Ramdan, memberanikan menghibur mertuanya yang ternyata dia kaget tak menyangka Bapak suaminya telah tiada. Dia memeluk Ibu itu dan membawanya keluar.

“Astagfirulloh aladzim,……ini ada apa…….???” Ucap seorang tukang kebun yang datang tanpa diundang.

“Mang Salim……..!!!” panggil Ramdan, “Tolong bant saya bawa Bapak ke ruang tengah…!!”.

“Astafirulloh aladzim tuan……!!!” kataya spontan kaget melihat majikannya.

“Bi tolong gelar karpet di ruang tengah rumah…..!!!” Perintah Ramdan.

“Baik Den…..!!!!!!”. langsung bergegas pergi.

Di dalam kamar mandi itu Nampak Ramdan dan Mang Salim mengangkat jenazah tubuh ayahnya membawa ke dalam rumah.

***

Udara di pagi itu masih menusuk dada. Matahari bangun terlambat. Kabut masih menyelimuti bumi membuat pagi terlihat masih sepi. Hanya nyanyian burung berpadu kokokan ayam yang dapat memecah keheningan. Diiringi tarian rumput dan goyangan dedaunan yang di dendangkan semeilwir angin pagi.

Heningnya pagi mulai pecah setelah ditemukannya Juragan Burhan di kamar mandi rumahnya oleh anak gadis semata wayangnya. Dan suasana kampong pun mulai bergemuruh ketika warga di kagetkan oleh kematian Juragan Burhan yang tidak wajar.

Suara tangisan dari beberapa anggota keluarga almarhum menambah suasana haru. Tampak di sekitar ruang tengah rumah, Pak Kyai Abdullah dan Pak RT sibuk mengurusi jenazah almarhum. Dan tak ketinggalan warga pun banyak yang ber-Takziah.

Hari itu terasa penuh dengan musibah bagi keluarga Ramdan dia masih trauma dengan kematian ayahnya. Dia merasa ada yang tidak wajar dengan kejadian itu tapi keluarganya tak mau kematian almarhum menjadi buah bibir warga. Ibunya menolak mendatangkan aparat yang berwajib untuk menyelidiki itu.

Dia menganggap kematian suaminya adalah hal yang wajar sudah saatnya Tuhan memanggil suaminya.

Hal itu sempat menjadi perdebatan di antara mereka tapi beruntung karena Kyai Abdullah lebih mendukung pendapat Ibu Surti istri juragan Burhan, mereka pun mempercayainya sebagai takdir yang sudah tersirat di Lauhil Mahfud.

***

Waktu terus berputar, hari mulai berganti malam pun terasa sepi seketika Juragan Burhan yang dikenal orang paling kaya di dusun tersebut jadi buah bibir warga yang konon cerita kematiannya tidak wajar.

Keesokan harinya setelah peristiwa itu, Firman anak sulungnya juragan Burhan kembali dari kota, dia sangat kaget mendengar ayahnya meninggal, secepatnya setelah ia dikabari Firman langsung pulang dengan istrinya, tapi sayang dia tidak sempat melihat terakhir kali wajah ayahnya, hatinya merasa terpukul.

Suatu hari Bu Surti mengajak anak-anaknya untuk berkumpul bersama. Mereka akan membicarakan pembagian harta warisan peninggalan almarhum ayahnya. Nampak diantaranya ketiga anaknya, Firman, Ramdan dan Lyla serta istri Firman dan Ramdan yaitu Resa dan Suci, tidak ketinggalan seorang laki-laki berumur empat puluhan hadir di antara mereka yang ternyata dia adalah Kuasa Hukum almarhum yang akan menyampaikan amanahnya pada keluarga almarhum tentang pembagian harta warisan.

Tanpa basa-basi, kuasa hukum almarhum langsung membacakan suratnya. Dengan seksama mereka mendengarkan pembagian harta tersebut yang ternyata pembagiannya terlihat kurang adil. Ramdan mendapatkan lebih banyak dari kedua saudaranya.

“Ini tidak adil…..!!!” sentak Firman dengan nada tinggi.

Dengan serentak keadaan berubah menjadi panas.

“Maaf pak, apakah yang di amanahkan almarhum ayah saya benar begitu……???!!” Ramdan angkat bicara.

“Silahkan anda baca sendiri suratnya, surat ini tanpa rekayasa, karena almarhum lah yang menulis dengan tangannya sendiri……!!!”. Laki-laki itu memperlihatkan suratnya.

“Aku tahu sepertinya kamulah Ramdan yang sudah mempengaruhi ayah…….” Kata Firman mencoba menyalahkan.

“Astagfirulloh aladzim, kak…….!!! Ramdan tidak pernah melakukan itu……!!!” Ramdan mencoba membela.

“Ah…….jangan sok pura-pura kau……!!!”.

“Ya Allah…. Kak sungguh……!!”. Ramdan mencoba memohon untuk mempercayainya.

“Aku tahu dari dulu, aku memang anaknya yang pertama, tapi ayah selalu saja lebih menyanyangimu……!!!!” di wajah Firman tergurat rasa kecewa pada almarhum ayahnya.

“Astagfirulloh aladzim……kak………” kata Lyla ikut membela.

“Pak apakah pembagian harta ini tidak bisa dirubah…..!!!?????” Tanya Lyla pada Pak Arman kuasa hukum almarhum ayahnya.

“Maaf, bukannya saya tidak hormat, tapi saya Cuma menjalankan amanah dari almarhum untuk menyampaikan surat ini.” Jelas Pak Arman dengan bijak.

“Bu……. Bagaimana ini……!!???” Lyla dengan sabar meminta pendapat ibunya yang dari tadi hanya terdiam.

“Ibu hanya bisa mengikuti amanah almarhum pada Pak Arman……!!!” jelasnya dengan nada datar.

“Ini sudah jelas, dari dulu sampai sekarang ayah dan ibu lebih menyayangi kalian dari pada aku. Padahal aku juga anaknya, mengapa bu…….???? Mengapa…???”. Tegas Firman dengan nada menyentak.

“Karena kau bukan anak ibu……” Kata perempuan tua di depannya tanpa ekspresi.

Deg……Deg…..

Suara jantung berdetak dari setiap orang yang mendengarkan kata-kata ibunya.

“Apa……????!” Spontan Firman meminta kejelasan pembicaraan ibunya.

“Jadi…..jadi……” Kata-katanya Firman terpotong.

“Ya…….!!!! Karena kamu bukan anak yang dikandung dari rahimku…..!!!”. Kata Ibu Surti dengan tegas.

Mulut Firman terbuka, makanya melotot, dia merasa petir telah menyambarnya. Tak kalah kagetnya Ramdan, Lyla, Resa dan Suci, mereka sangat kaget mendengar itu semua. Kecuali Pak Arman dia biasa-biasa saja, karena sebelumnya dia sudah tahu langsung dari mulut almarhum Pak Burhan.

Suasana bertambah panas, lebih panas dari sebelumnya. Rasa panas itu telah membakar hati firman ketika mengetahui siapa dirinya sebenarnya. Dia teredam dalam amarah dan kekecewaan. Firman keluar meninggalkan tempat itu diikuti istrinya.

“Mas…….!!!” Teriak Resa istrinya sambil mengejar Firman.

“Kak Firman….!!!” Panggil Lyla.

“Bu……!!!!” menatap ibunya, tiba-tiba Bu Surti jatuh pingsan di atas kursi.

“Bu…….!!!” Panggil Ramdan.

“Ibu……….!!!!” Kata Suci istrinya Ramdan.

Mereka membawa ibunya ke dalam kamar.

***

Malam terasa mencekam angin berhembus menggiring kabut putih. Dedaunan melambai tanpa kata, suara anjing hutan mengaung menambah seram. Langit gelap tak berbintang bulan pun di telan malam. Kemarahan Firman meredam memanggil malam menenggelamkan bumi yang gelap.

Sesosok bayangan hitam yang membawa senjata tajam melangkah dengan tatapan geram. Dengan sigap dia meloncat dengan cepat dia berlari menerobos jalan menerjang rintangan. Dia berlari ke belakang sebuah rumah mendekati sebuah kamar, di depan kamar dia berdiri.

Satu pekikan anjing hutan meraung. Dia membuka jendela dengan cepat meloncat, lalu tanpa ragu menancapkan sebuah pisau pada ulu hati Ibu Surti yang masih terbaring.

“Aaaaaah……..!!!!!” Perempuan itu berteriak.

Kembali dalam rumah itu menggema suara teriakan seseorang. Ramdan yang mendengar itu langsung lari terbirit-birit, kemudian membuka pintu kamar ibunya.

“Ibu…!” teriak Ramdan saat melihat ibunya berlumuran darah. Didepannya seorang laki-laki berdiri dengan memegang pisau yang berlumuran darah. Wajahnya marah merah menyala, tangannya bergetar, urat-uratnya Nampak tegang, dia tidak bisa bergerak melarikan diri. Tapi ternyata dia mempersiapkan ancang-ancang untuk menyerang.

“Ramdan, kali ini giliran kau yang kubunuh” Suaranya memekikan amarah yang tidak dapat dicegah.

“Kenapa kau bunuh Ibuku, Firman” sentak Ramdan mulai emosi.

“Jangan pura-pura tidak tahu kau, ku bunuh kau..!

Dengan lincah kakinya bergerak tangannya bersiap menusukan pisau. Firman menyerang Ramdan. Dengan sigap Ramdan menghindar kesamping tembok ketika Firman menusukan arah pisaunya ke arah tubuh Ramdan.

Saat Ramdan menghindar, tiba-tiba istrinya Suci menampakan diri diambang pintu dengan lari tergesa-gesa.

“Aaaa!” Teriaknya saat pisau Firman menancap di uluhatinya.

“Suci…!” panggil Ramdan setengah berteriak.

Firman segera melepas tangannya kemudian berlari meninggalkan mereka. Suci tersungkur di lantai Ramdan merangkul tubuhnya, dia menjerit hesteris menyebut nama istrinya.

“Mbak Suci…!” panggil Lyla sambil berlari menghampiri mereka.

“Firman……!!!! Berhenti kau pecundang……” Panggil Ramdan dengan emosi.

Firman di depan pintu keluar. Lalu menatap balik pada Ramdan. Mendengar hardikannya dia tertantang untuk tanding. Ramdan mencabut pisau yang masih menancap di tubuh istrinya.

“Kak……!!!! Jangan lakukan……!!!” Cegah Lyla yang merangkul tubuh Suci.

“Istigfar Kak…..!!!.

Ramdan benar-benar sudah kehilangan kendali, setan yang berada di dalam tubuhnya sudah menguasai emosinya. Dengan keahliannya, Ramdan melempar pisau itu kearah dadanya Firman.

“Aaaaaa…….!!!!!” Teriak kesakitan.

Ternyata lemparan Ramdan meleset. Firman telah cepat menghindar, sedangkan pisau itu menancap tepat di dada istrinya Firman. Resa tiba-tiba masuk membukakan pintu.

“Resa…….!!!!!” Firman menjerit.

“Aaaaaaaaa………!!!! Tidak………!!!!” Lyla yang melihat kejadian itu menjerit histeris ketakutan.

“Keparat kau Ramdan, kau telah bunuh istriku, tak akan ku biarkan kau hidup…..!!!” dengan amarah yang meledak, Firman lalu menyerang Ramdan.

Terjadilah pertarungan sengit antara Firman dan Ramdan di tengah-tengah rumah yang mereka anggap ring pertandingan. Ramdan di lempar Firman hingga memecahkan kaca meja. Butiran kaca berjatuhan pecah, karena tak mau kalah Ramdan pun bangkit lalu memukul pelipis Firman. Mulutnya mengeluarkan darah, Firman memukul balik pada arah ulu hatinya. Ramdan tak kalah muntah darah lebih banyak, Ramdan membalasnya dengan tendangan pada muka, Firman terkapar.

“Hentikan……..!!! Kak jangan lakukan itu….!!!!!” Lyla terus berteriak. Tapi keduanya tak menghiraukan kata-katanya malah pertarungannya semakin panas.

Saat Ramdan akan menarik kerah Firman, dengan sekuat tenaga Firman  menendangnya. Ramdan mundur beberapa langkah mencari keseimbangan. Dia menunduk menahan rasa sakit, ketika itu Firman mengambil kesempatan mengambil pisau yang masih menancap di dada istrinya. Secepat sesaat Ramdan kembali berdiri, Firman sudah berada di hadapannya untuk menusukkan pisaunya.

“Dar……..!!!!!” Suara tembakan yang tiba-tiba mengakhiri pertarungan itu.

Dengan bergetar Lyla memegang pistol, mulutnya masih berasap setelah peluru melesat tepat di leher Firman. Firman ambruk di depan Ramdan, tak kalah mengerikan pisau yang Firman pegang sudah menancap di perut Ramdan, Ramdan pun ambruk.

“Tidak…….!!!!!”. Teriak  Lyla yang ternyata dia terlambat menarik tuas pistolnya.

Lyla berlutut dan berlinang air mata.

“Kenapa semua ini terjadi……..???? Kenapa harus begini…….????!!”. Lyla terus menangis.

“Kak Firman kenapa kau lakukan ini…..????? Kenapa…..????!!! Seberapa besarkah sakit hatimu, sehingga harus berakhir seperti ini….. dan kenapa kak Ramdan tidak bisa menahan amarah Kak…….????!!!”. Lyla terus menjerit menangisi peristiwa yang baru terjadi.

Kini dia hanya hidup sebatang kara diantara kelima tubuh anggota keluarganya yang berlumuran darah sudah tidak bernyawa.

“Ibu…..Mbak Suci…..Mbak Resa…..Kak Ramdan……dan Kak Firman……kenapa kalian tinggalkan aku….kenapa kalian tidak sekalian bunuh aku…..!!!!!!!”.

“Dar……!!!!” suara tembakan yang ia putar seratus delapan puluh derajat.

Purwakarta, 11 September 2009

Copyright © Ray Victory

Posted on November 2, 2009, in Cerpen and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: