1. Awal dari Akhir Cerita (Shortly)

Cakrawala dunia terbuka luas Matahari berdiri di atas bumi membentangkan hikarinya di setiap kehidupan. Hiruk pikuk aktivitas dunia sudah terasa sejak fajar menyongsong. Hasil teknologi globalisasi kian berlarian di atas jalan, berbondong – bondong memburu aktivitas, setiap insan manusia telah terikat dengan waktunya masing–masing.

Di tengah–tengah kota metropolitan telah berwujud sebuah bangungan yang megah. Golongan papan atas, dengan taman yang luas dan perabotan serba mewah. Serba tercukupi, rasanya seakan surga dunia telah berpijak di atas bumi.
Sinar matahari telah menembus setiap celah jendela yang masih tertutup gordeng. Seorang wanita membuka selebar-lebarnya hingga terpandang sebuah pesona fajar di pagi hari.

Terdengar dari lantai dua ketukan nada alas kaki bernyanyi menuruni anak tangga seakan suara sepatu kuda yang sedang berjalan.

“ Bi ! sarapannya sudah siap belum? “ suaranya terdengar sedikit serak. Dia berseragam putih abu.

“ Sudah non !! bibi sudah siapkan dimeja makan “ teriak seorang pembantu saat keluar dari ambang pintu.

Terlihat keadaan masih sepi, walaupun jendela-jendela sudah banyak ditembus cahaya. Dia melangkahkan kakinya menuju meja makan. Ia tatap piring-piring berisi hidangan pagi telah tersaji menunggu untuk segera dimakan. Kursi-kursi yang menjadi saksi sidang pagi ini belum ada yang menduduki. Sosok laki-laki yang setiap harinya lebih dulu menanti di atas kursi kini belum nampak dasinya menggantung. Hal itu membuat remaja yang menghampiri acara sarapan pagi itu terpaku heran.

“Kok masih sepi?” katanya seolah bertanya pada diri sendiri. “bi ! papah mana? Kok belum ada?” setengah teriak, dari balik ruangan muncul seorang perempuan setengah baya menghampiriya. “mungkin masih dikamarnya non..! ya sudah bibi panggil dulu”

“Bilangi lestari sudah nunggu ya bi…!” tanpa diperintah perempuan itu berlalu dari pandangannya.

Namanya Dinar Dwi Lestari seorang gadis yang sudah empat tahun ditinggal ibu kandungnya. Dia hidup dengan didampingi seorang ayah terhormat yang begitu sayang terhadap buah hatinya tercinta.

Lestari nama yang sering dipanggil ayah dan ibunya.

Anak tunggal ini sangat berbakti pada orangtuanya. Walaupun hidup disaat remajanya tanpa didampingi seorang ibunda tercinta, dia mampu menjaga diri. Terkadang pekerjaan kantor mengambil simpati ayahnya lestari memaklumi apa yang ayahnya lakukan semata-mata untuk kebaikan dirinya dan keluarga.

Tapi kalau terus menerus diabaikan dia juga suka merasa kesal atas kurang perhatian dari sang ayah. Lestari bisa bertahan dalam semua masa hidup yang ia lalui. Pertahanan itu merupakan pewaris cinta dan kasih sayang ibunya yang ia terima selama dua belas tahun. Sudah lebih dari cukup cinta itu melekat di binar kehidupan lestari hingga menginjak masa pubernya. Masa dimana seorang remaja selalu ingin mencoba. Masa itu terlewati dengan baik tanpa ada asmara yang membuat dirinya merasakan cinta dari seseorang. Cintanya ia simpan sedalam mungkin terus mendampingi hidup. Dan hanya seseorang yang berhak mendapatkan cintanya itu.

Sebentar lagi dewasa akan berdiri didepan mata. Hanya tinggal persiapan yang diperlukan. Arah dan tujuan hidupnya telah ia tentukan dalam melewati hari-hari bersama mentari pagi. Pelajaran dari orang-orang seisi rumah sangat bermanfaat untuk bekal kedepan. Sopan-santun dan tatakrama dalam satu lingkungan keluarga sudah menjadi tradisi keluarga Dinar Pramudya Arta Jasa. Walaupun status mereka berbeda tetapi dalam pandangan keluarga adalah saudara sehidup-semati, seiman dan seperjuangan.

Pagi hari masih membekas. Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu. “bi..ada yang ketuk pintu,tolong bukakan yaaa….” Tak ada jawaban yang ia dapat kecuali ketukan pintu yang semakin lama semakin keras memecah keheningan. “duh. . .! bi Asih kemana?? Bukannya bukain pintu malah keluyuran.

Lagian siapa sih pagi-pagi gini udah bertamu .” dengan kesal lestari berjalan menghampiri pintu yang sembari tadi berteriak-teriak.

Perlahan ia membukakannya, tampak didepannya tiga orang laki-laki berseragam dinas dengan lambang macan hitam dibahu kiri nya berdiri tegap. ”selamat pagi,,dik ! maaf kami mengganggu, apakah bapak Pramudya ada?”

Spontan wajah lestari yang kusut berubah merah menyala ketika seorang dari mereka menanyakan ayahnya.

“A…aaa…aaadaa ! “ jawab nya gagu. “ silahkan masuk dulu” lestari mempersilahkan mereka duduk. Kemudian dia beronjak dari tempat menuju belakang. Dalam setiap langkahnya lestari telah diliputi pertanyaan-pertanyaan yang membuat nya bingung apa tujuan pihak tersebut datang kerumahnya. Benaknya menyimpan curiga.

Bi asih terlihat setengah berlari menghampirinya. “non..maaf tadi bibi……” kata-katanya terhenti, lestari memberi isyarat untuk tidak bicara.

Lestari berjalan menuju kamar ayahnya. “pah ! ini lestari “ ucapnya sambil mengetuk pintu kamar ayahnya.

“Iya ada tari? “ terdengar suar dari balik pintu. Lestari ragu mengatakannya . “di luar ada tamu katanya ingin bertemu papah “ “siapa ? “ jawabnya setengah teriak.

Lestari tidak menjawab. Pintu masih belum terbuka. Dia mendengar benturan benda-benda yang sepertinya tergesa-gesa dibereskan. Baru setelah sekian lama pintu terbuka dengan sebuah lemparan pertanyaan seakan mengagetkan.

”Siapa tamunya ??” ucap nya dalam raut muka yang tidak biasanya. Lestari hanya terdiam mengikuti ayahnya dari belakang menuju ruang tamu. Ambang pintu yang memisahkan ruang keluarga dan ruang tamu seolah menjadi saksi. Langkah ayahnya terhenti sesaat dia melihat tamu yang berada diruangan itu tak menunggu lama ketiga orang itu langsung menyambutya. “kami dari pihak kepolisian mendapat surat perintah penangkapan terhadap saudari Pramudya Arta Jasa atas perkara penyuapan ” suara itu terdengar lantang dihadapan ayahnya. “ maaf pak. Sebenarnya ada apa? Apa salah saya?” terdengar pembelaan dimata ayahnya.

“Silahkan anda bisa memberikan keterangan di kantor ” kedua polisi lainnya langsung memborgol tangan Pramudya. Pramudya tidak bisa melawan. Dia hanya pasrah menerima perlakuan ketiga polisi tersebut.

“Papah… !! ” menutup mulutnya menerima kenyataan yang tidak mungkin.
Lestari langsung memburu ayahnya yang sudah diborgol meminta kepada ketiga orang itu melepaskannya. Jerit tangis permohonan terus diteriakan. Bi asih yang sembari tadi menyaksikan secepatnya menghampir lestari yang terus memeluk ayahnya. Menahan lestari agar membiarkan mereka membawa ayahnya.

“ Tidak…..! papah tidak mungkin melakukan itu, jangan kalian bawa papahku ” teriak lestari bercampur tangis.

Mendengar kejadian itu seisi rumah bermuculan menyaksikan yang terjadi. mereka tidak bisa melakukan apa-apa kecuali mengeluarkan air mata.

“Lestari tenang jangan menangis.papah akan baik-baik sajaa. Kmu yang sabarya..” kata ayahnya meredakan tangis lestari

“Tidak pah, lestari tidak mau papah pergi” ketiga orang itu membawa ayahnya pergi “pah….! Papaah.. .” lestari terus-menerus menangis, bi asih mencoba menahannya, memeluknya erat.

***

Satu minggu sudah berlalu setelah lestari menerima kenyataan yang membuatnya tak percaya.

Waktu itu kesehatannya benar-benar terganggu, terlihat semangatnya menurun. Hari-harinya penuh lamunan yang tak berarti sedikitpun. Tanpa ia peduli dengan takdir, lestari berdiri untuk tegar seolah-olah kejadian itu pelajaran baginya kelak dimasa depan.

Esok harinya lestari mulai mengawali aktifitas nya seperti biasanya. Walaupun ada luka yang masih tergores dibelahan hatinya,sepenuh harap dia coba untuk bersabar. Perasaan yang ia genggam bisa diikhlaskan tapi. Realita yang mungkin dihindari.

Lestari tak menyadari bahwa dampak dari hal yag dilakukan ayahnya dapat menjadi pembicaraan orang. Kenyataan itu benar-benar berpengaruh pada keadaaannya disekolah. Dengan sekejap lestari menjadi buah bibir warga sekolah.Terdengar dari sekumpulan teman-temannya yang sedang duduk-duduk dipojok kelas.

“Pantas aja uang kas suka kurang ternyata dimakan sama bendaharanya “ ucapan itu mendengug ditelinga lestari seolah telah mengejek dirinya karena kedudukannya dikelas sebagai bendahara.

“ Yang pastinya kalau ayahnya korupsi pasti anaknya juga tak jauh dari itu..hhaaahhhaaahhhhaa !!!” ejek mereka.

Lestari mulai muak mendengar kata-kata mereka. Pengaruh cobaan keluarganya membuat dirinya semakin terdesak. Memang lestari merasa dilahirkan dari seorang ayah yang tidak disangka melakukan hal yang memalukan tapi soal kedudukannya sebagai bendahara kelas yang dituduh sama seperti ayahnya tak rela ia terima.

“ Enak ya..bisa menikmati uang korupsi seperti dapat durian runtuh terus-terusan “ anak laki-laki yang ikut bergabung bersama mereka ikut-ikutan mengoloknya dengan suara lantang agar seisi kelas mendengarnya.

“ Emang kamu pernah ketimban durian runtuh , terus rasanya gimana?” salah seorang temannya meladeninya.

“Ya….tanya aja pada orang yang udah pernah ngerasakan.” Nada sewotnya terdengar.

Mendengar pembicaraaan itu lestari tak berkutik. Dia hanya bisa berdiam diri. Menahan rasa sakit dihatinya. Perlahan mimik wajahnya memerah.Mencoba ia tahan dengan menggigit bibir bagian bawah. Tapi kelopak matanya tak mampu membendung airmata.

Tak ada seorang pun yang prihatin disaat ia membutuhkan perhatian orang yang siap menerima semua unek-unek yang mengganjal dihatinya. Terasa berat memang menahan semua perasaaan pahit, sedih, kesal dan marah. Dunia seakan jungkir balik, yang dulu dia dibanggakan oleh teman-temannya, kini harus menerima kenyataaan. Kasih sayang guru terhadap muridnya, prestasi yang dibanggakan, dan teman-teman seperjuangan yang lestari sayangi harus mengkhianati kepercayaaan itu.

Nama baik keluarga “Dinar Pramudya Arta Jasa “ terutama nama Dinar Dwi Lestari telah mencontrengkan keburukan, cemoohan dan ejekan terus bergendang ditelinga. Yang dulu pujian dan penghormatan menembus raga dengan bangga kini telah berevolusi menjadi sandal yang pantas untuk diinjak.

Lestari berlari keluar kelas menghindari pembicaraan yang mungkin menjadi panjang lebar.

Dia mengasingkan diri dibalik pohon taman sekolah. Tetesan Kristal terurai halus
“ Aku tak sanggup lagi menerima semua ini , tak ada
orang yang peduli dengan keadaaanku. Aku lebih baik mati saja daripada harus hidup mederita seperti ini “

Tiba-tiba terdengar dari belakang “ jangan kamu bicara seperiti itu. Aku masih peduli sama kamu !”

“Mau apa kesini ? Mau mencaci-maki diriku? Menghina keluargaku? Membunuh perasaaanku yang terluka? “ dengan kesal saat lestari mengetahui orang yang menghampirinya.

“lestari kamu salah paham, aku tidak bermaksud melakukan semua itu aku tahu perasaaanmu saat ini dan aku tidak seperti yang kamu bayangkan “

“ lalu mau apa kamu kesini !?” sentaknya

“ sebelumnya aku minta maaf jika telah mengganggumu,. Tapi, sungguh kehadiranku disini ingin menemanimu. Aku sangat peduli denganmu. Jangan kamu kira tidak ada orang lagi yang peduli sama kamu. Buktinya aku datang kesini bertujuan untuk menghiburmu. “ menegaskan kalimat terakhirnya.

“ sejak kapan kamu bertaubat ? ” lestari masih membantah kehadiran Rina.

“ Ya Allah…!! Apa maksud kamu lestari? “ rina menjadi bigung. “ Ok..!! mungkin kamu masih menyimpan dendam padaku. Dan aku memang pernah salah telah menyakiti perasaaanmu. Aku mohon, aku minta maaf..sesungguhnya aku tak tahu kejadian itu. Sungguh, apakah kamu tidak percaya dengan sahabatmu ii teman kecilmu, lestari “ rina memohon kesadaran lestari.

Lestari hanya diam, dia berpikir ini bukan saatnya bertengkar, ruang hatinya membutuhkan seseorang yang bisa menghangatkan suasana. Lestari bangkit dari duduknya. Kemudian memeluk sahabat kecilnya itu.

“Maafkan aku,, Rin !” “ jangan katakan itu, kamu sama sekali gak salah . akulah yang harusnya meminta maaf “

“Makasih ya, Rin. Kamu memang sahabatku yang terbaik. Aku akan selalu menyayangimu “ nampak dibenak lestarii ketenangan menghampirinya.

Lestari dan rina adalah sahabat yang begitu setia menemani segala suka dan duka. Walaupun selama satu bulan pernah terjadi perselisihan diantara mereka. Karena rina telah menyebarkan berita yang tidak-tidak. Tapi berkat kesetiaannya, mereka selalu menerima dengan tangan terbuka. Meraka mulai mempererat persahabatannya ketika lestari membantu rina yang pada waktu itu dia harus merelakan kedua orangtuanya berpisah. Sejak itu lestari sangat dekat dengan Rina. Sampai sekarang ketika lestari membutuhkan pertolongan. Rina akan selalu ada didekatnya.

Mereka bisa bersatu karena hatinya yang sama-sama luka. Bahkan mereka sudah mempunyai prinsip yang menjadi moto persahabatanya.

***

Keputusan sidang terhadap hukuman yang harus diterima Pramudya masih berjalan beberpa kali pertemuan sidang digelar demi mengetahui bukti-bukti dan pengakuan pihak terdakwa.

Sampai akhirnya hakim memutuskan dan menjatuhkan hukuman pidana kepada terdakwa.

“ Dengan ini pengadilan memutuskan, menjatuhkan hukuman pidana kepada saudara Dinar Pramudya Arta Jasa dengan hukuman enam tahun penjara dan denda berupa uang sebesar 5 triliun rupiah. Keputusan ini mutlak dan tidak bisa diganggu gugat.

Hakim mengakhiri persidangan dengan memukulkan palu tiga kali. Dengan cepat suasana ruangan sidang berubah menjadi ricuh oleh setiap pembicaraan orang-orang tentang pendapat dan komentar persidangan. Acara sidang berakhir dengan penuh pasrah, mengeluh tak berdaya menerima kenyataan yang ada, kenyataan yang harus Pramudya terima.

Lestari yang sembari tadi menyaksikan persidangan tiba-tiba jatuh pingsan. Mungkin inilah kenyataan hidupnya yang harus ia terima dan mungkin ini juga akhir hidupnya tapi kehendak Tuhan tidak ada yang tahu.

Dua minggu sudah berlalu, kondisi fisik lestari sangat lemah. Gemilau cahaya yang pernah terpancar kini hampir tenggelam dalam kegelapan. Harapannya menjadi redup seakan langit yang gelap menelan purnama.

Semua impian yang ia harapkan seperti tak berwujud. Dunia telah membunuh cita-citanya, merobek-robek rancangan hidup masa yang akan datangnya.

Dalam ruangan berukuran lima meter persegi seorang wanita sedang berbaring tak berdaya. Kulitnya pucat pasi, tubuhnya mengering seakan ranting-ranting yang rapuh. sesekali wanita disampingnya mengganti kompresan yang diletakan di atas keningnya.

Matanya perlahan terbuka kesadarannya mulai pulih kembali. Tubuhnya terlihat lemah hampa tak berdaya dia menatap wanita disampingnya yang sedang memijit-mijit tangannya. Lestari mulai bicara “bi..!? lestari sudah gak sanggup lagi tinggal disini. Lestari tak mau hal ini terus berkepanjangan. Lestari ingin mengasingkan diri..pergi jauh melupakan yang sudah terjadi “

“ Tapi keadaaan….” Potong Lestari

“Lestari sudah tidak apa-apa hanya butuh udara segar saja “ menguatkan keinginannnya.

“ Non..maafin bibik..bibik tidak bisa . . .” kembali terpotong “ kenapa bi ?! bibik juga akan pergi meningggalkan lestari ? “ air matanya berderai.

“ Bukan begitu ,Non ! bibik sayang sama non lestari, tak mungkin bibik meninggalkan non sendirian, bibik mengerti apa yang non rasakan. Tapi, bibik hanya bisa membahagiakan non dengan mengajak non tinggal dirumah bibik. Sebenarnya bukan rumah yang besar dan mewah seperti ini tapi cuma saung jelek.

Dan itu pun kalau non mau tinggal disana.

“ Nggak apa-apa bi …lestari akan usahakan betah tinggal dirumah bibik. Memangnya rumah bibik dimana? ”

“ Allhamdulillah masih termasuk kawasan Bandung, hanya rumah bibik terus menerobos pedalaman “

“Nggak apa-apa makasih ya…bi ! udah mau bersama lestari “ lestari bangkit dari tidurnya kemudian memeluk bi Asih.

Lestari bersyukur masih ada orang yang peduli padanya. Memang keadaan keluarganya tak terkendali lagi setelah sidang memutuskan hukuman pada ayahnya. Seketika pembantu-pembantunya minta mengundurkan diri. Ada yang beralasan sudah tidak betah dan ingin pulang kampung. Setelah itu lestrai benar-benar dalam keadaaan tertekan. Tapi dengan adanya bi Asih yang masih setia kini ia bisa melampiaskan penekanan yang menggerogoti jiwanya. Dalam pelukan bi Asih Lestari merasakan ketenangan yang mengalir di nadi-nadi tubuhnya. “ aku merasakan pelukan seorang ibu cinta dan kasih sayang mamah. Oh..mamah ! aku rindu padamu,,aku kesepian tanpamu andaikan dirimu masih ada akan kupeluk erat seperti ini. Hangatnya pelukanmu membuatku merindukan cinta dan kasih sayang sang bidadari penyejuk hati. Oh mamah….daku kini tinggal sendiri tak ada pelukan yang membuat tidurku nyenyak. Maafkan diriku ii yang hina. Dirimu tauladan hidupku. Aku tidak akan menyesal kehilangan mu, karena sekarang kau telah mengirimkan malaikat untuk menjaga diriku yang begitu sayang padaku. Oh mamah !! janganlah kau tinggalkan aku…aku rindu padamu…mah….!! “

***

Genap sudah kini lestari menginjak usia tujuh belas tahun, masa inilah pemikirannya sudah mengarah pada kedewasaaan, canda tawa, suka duka, dan rasa manja tidak tampak lagi. Kehidupannya itu ia simpan sebagai kenangan. Masa lalunya ia jadikan pengalaman yang berharga . dia telah menyadari kesalahan yang dulu ia lakukan jauh dari bayangan. Sikap moral pelajaran yang ia dapat dari dukungan bi Asih telah mengembalikan kehidupannya. Ajaran islam yang dulu rentan malahan hampir tak ada dalam keluarganya kini telah membawanya kejalan yang benar. Ajaran-ajaran islam membangkitkan semangat hidupnya. Sikap mental yang mulai tumbuh kembali dapat menimbulkan semangat baru seakan kegelapan malam memuntahkan purnama yang terang. Kini arwah lestari telah hidup kembali dari mati surinya.

Walaupun kekurangan harta benda, lestari mampu membiayai sekolahnya tanpa ada sedikitpun bantuan dari orang lain,malahan untuk makan sehari-hari lestari dan bi Asih, dia yang menjadi tulang punggungnya. Usaha itu lestari lakukan sebagai tanda perjuangannya yang pernah redup kini telah bersinar terang menyinari kehidupannya. Harapan dan cita-cita sudah nampak di depan mata, tinggal bagiamana cara mewujudkan cita-cita tersebut. Sejak lestari kehilangan segalanya, wujud nyata semangat perjuangan benar-benar mendarah daging di jiwanya. Kobaran api membakar besi tampak sangat kuat. Kerja keras membunuh waktu tak henti-hentinya ia lakukan.

Tanpa pertolongan Allah mungkin semua itu tidak ada apa-apanya. Kerja keras yang dia lakukan sehari-hari selalu diiringi dengan doa. Kedekatannya dengan Maha Pencipta membuat hidupnya terasa ada yang mendampingi. Shalat, dzikir, tadarus, dan semua aktivitasnya yang berhubungan dengan ibadah tak pernah ia tinggalkan. Sedikit demi sedikit ilmu yang diberikan bi Asih mengalir di jiwanya lestari merasa hidupnya terasa lebih bahagia setelah sekian lama bersama bi Asih yang sudah ia anggap sebagai ibu kandungnya sendiri.

Sosok yang dulu menjadi pembantunya kini telah memberikan perjuangan dan semangat yang menjadikan harkat martabat keluarga besar “ Dinar Pramudya Arta Jasa “ tumbuh kembali dengan akar-akarnya yang kokoh. Walaupun salah satu cabang rantingnya mati akibat daun-daunnya berguguran. Pohon yang berakar kuat itu kembali berdaun lebat. Selebat dan sehijau pohon beringin yang terus membumbung tinggi hingga keatas. Bahkan semerbak bunga telah tumbuh menghiasi. Bunga-bunga surga yang harumnya tak terbayangkan membuat setiap orang dapat merasakan indahnya surga yang abadi.

Setiap harinya ia menguras keringat disebuah toko makanan khas kota Bandung yaitu Kripik Tempe. Dia sangat bersyukur bisa mendapatkan pekerjaan itu.
Untuk mendapatkan pekerjaan itu lestari harus menguras tenaga di tengah hiruk pikuk keramaian kota yang disertai pemanasan global sinar ultraviolet. Ia tau sengatan matahari yang membakar kulitnya dapat membuat penyakit kanker kulit tapi ia tak mau mempedulikan itu, yang ada dalam pikirannya adalah kerja keras.

Pesan ibunya masih tergambar dibenaknya “ Teruslah berusaha dan jangan putus asa setiap keinginan pasti ada jalan keluarnya. Dan ingatlah hidup ini sementara tempat kita membawa bekal untuk nanti di akhirat yang kekal. Walaupun kita merasakan sengatan matahari yang membakar kulit, di akhirat nanti panasnya belum seberapa, jika sekarang kedudukan matahari sejauh 150 juta km. maka diakhirat sana jaraknya satu jengkal dari kepala kita. Tak terbayangkan golakan otak manusia mendidih dibawah panasnya kalor.

Keringat yang didunia tidak seberapa di akhirat dapat menjadi banjir bagi dirinya sendiri. Bahkan bisa menenggelamkan tubuhnya. Bersyukurlah kepada Sang Pencipta yang telah mewujudkan matahari sebagai sumber kehidupan. Apa yang akan terjadi jika menusia hidup dalam kegelapan sepanjang masa. Mungkin tak an bisa bernafas dan akhirnya dapat ditelan sakaratul maut. Banyak orang yang takut mati. Entah apa yang ditakutkan nya? Padahal mati bukanlah akhir dari segalanya karena masih ada didunia sana yang kekal abadi. Patuhilah hidup kita di dunia dengan amalan yang dapat membawa kita melewati jembatan syiratal musstakim.”

Setiap membayangkan pesan itu lestari selalu meneteskan airmata. Ia merasa hidupnya telah sia-sia. Namun hatinya selalu mencoba untuk memperbaiki perbuatannya dimasa lalu. Dan berharap keajaiban Tuhan datang menghampirinya.

***

Bersambung…

Copyright © Ray Victory

Posted on November 3, 2009, in Novel and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s