Tak Pernah Ku Membasuh Kakimu

Oleh: Ray Victory

“Tenonenonenoret….!” Aku terperanjat memdengar ringtone hand phone jadulku, menjerit memecahkan konsentrasiku pada sebuah buku bacaan.

Sejenak ku abaikan deretan kata yang tersusun rapih dalam lembar halaman. Segera ku buru tombol panggil dan ku letakan di samping daun telinga kananku, spontan aku merespon.

“Hallo….!”

“Iya hallo. Maaf apakah ini dengan saudara Ikhsanul Fazar…?”

“Iya betul….!” Ku jawab tanpa ragu.

“Kami dari panitia lomba menulis naskah film, memberitahukan bahwa naskah film anda layak kami jadikan sebagai pemenangnya….!”.

“Alhamdulillah….! Terima kasih ya Allah…..!”.

“Besok kami tunggu kehadiran anda di kantor kami untuk menerima hadiahnya….!”.

Sejuta bayang-bayang di benakku membatin, aku benar-benar tidak tahu harus berkata apa, tapi yang pasti aku sangat bersyukur karena dengan pertolongan-Nya aku bisa membuka jalan hidup yang lebih cerah lagi setelah aku harus dihadapkan dengan cobaan, hand phone pemberian kakaku raib di ambil maling.

Dibawah bulan tanggal empat belas di antara langit hitam kelam berbintang, aku duduk bersandar pada dinding depan kontrakanku. Hatiku terasa hampa mendapat kebahagiaan yang membuat bangga, aku jadi banyak diam bertanya-tanya sungguh ini kenyataan ataukah cuma khayalan sampai aku merasa depresi sama seperti ketika aku kehilangan barang-barang kesayangan yang aku banggakan.

***

Diatas Podium yang berukuran tiga kali empat aku berdiri dihadapan para penonton, tangan kananku memegang sebuah trofi dan tangan kiri memegang sterofoam bertuliskan sejumlah uang sebagai hadiah atas kemenanganku, tak lupa piagam penghargaan pun aku tenteng. Dengan serentak suara tepuk tangan memeriahkan tempat itu berkali-kali bercak cahaya dari beberapa kamera mengabadikan kejadian itu.

Ini adalah kenyataan yang membuat aku menangis. Air mata bahagia mengalir menuju surganya Tuhan. Hatiku bertasbih mengucap syukur Alhamdulillah. Sesungguhnya segala yang kumiliki ini adalah pemberian-Nya, tanpa-Nya aku takkan bisa seperti ini.

***

Siang yang gersang ditemani cahaya matahari membuat nadi-nadi tanganku terlihat bergenang keringat. Aku berjalan diatas trotoar melawan arus jalannya kendaraan, menyembunyikan wajah dari tatapan mentari. Setelah sejenak ku hembuskan beberapa helai nafas menunggu sebuah bis yang akan mengantarkanku pulang. Kali ini aku akan langsung mudik, aku ingin membagi kebahagiaanku pada keluarga tercinta terutama ayah dan ibuku. Sebelumnya aku pernah mengadu pada Tuhan jika kelak aku menang dalam lomba menulis naskah film aku bernadzar akan membasuh kaki kedua orang tuaku.

Angan-anganku selama ini telah berada didepan mata. Aku tatap langit-langit bis yang putih polos, tapi bagiku seakan-akan bintang menari-nari menghibur kebahagiaan ini. Tenggorokanku kering, aku coba untuk meneguk air putih yang kubeli sbelum naik bis. Masih terbayang dengan acara penyerahan penghargaan tadi, aku coba untuk melihat tropi yang kuletakkan didalam ranselku. Aku bangga mendapatkannya.

“Mau kemana, De? Tanya seorang pria setengah baya yang baru saja duduk disampingku.

“Tanjungsiang….!”. jawabku menyebut kampong halaman.

“Bapak mau ke mana…….?” Tanyaku tak mau kalah.

“Sumedang……!” jawabnya sambil menatap wajahku.

“Itu apaan yang dibawa…..?!” tanyanya lagi.

Aku sadar pada benda yang dari tadi ku pegang.

“Ohhh…ini tropi pak….!” Ku lebarkan senyum.

“Tropi apaan….??!”.

“Ini tropi juara lomba menulis naskah film….!”.

“Oh….. juara ke  berapa……??”

“Alhamdulillah juara pertama……!!!”

“Wahhhh….hebat….” puji bapak itu.

Terlihat seorang pengamen memasuki bis, dengan alat musiknya yang menggantung di leher, kemudian dia memainkan nada-nada yang terdengar memecah keheningan. Dengan suara yang pas-pasan dia mulai menembangkan lagu anak jalanan.

Hembusan udara yang menyegarkan terasa di lubang pernapasan ketika bis yang ku tumpangi memasuki kawasan perkebunan teh. Sembari menikmati dendang irama seorang pengamen aku tatap hamparan kebun teh sejauh mata memandang. Pohon-pohon yang berdiri dikelilingi tanaman teh seolah berjalan cepat meninggalkan bis yang di tumpangi oleh kami. Aku sangat senang karena sebentar lagi rinduku akan segera terobati. Rindu pada kampong halaman dan rindu pada keluarga.

“Cita-citanya jadi penulis ya…..???”.

“Ah…engga pak, Cuma hobi aja…..!!!”.

“Lho, kenapa……jadi penulis bagus, apalagi sudah dapat penghargaan seperti ini, pasti ke depannya mudah….!!!”.

“Amin…….!…”. Hati ku tersenyum mendengar motivasinya.

“Sudah kerja…..???”.

“Belum, saya masih kuliah…!!”.

“Dimana….????!”.

“UNPAD…. Jurusan management…!”

“Oh…. Rumah dimana….????…”

“Rumah orang tua saya di Tanjungsiang…!!”.

“Oh ya…..!! sekarang pulang ke orang tua….??” Tanya bapak tersebut mencoba menebak.

“Iya…….”.

Tak terasa ke-asikan ngobrol pengamen yang dari tadi benyanyi mulai mengakhirinya, dengan beberapa patah kata penutup, kemudian dia mengelilingkan kantong plastic bekas permen mengharap imbalan atas nyanyiannya. Seiring dengan itu hamparan teh pun mulai kami lewati. Saat itu pemukiman warga mulai terlihat berdiri diatas tebing-tebing jalan. Liku-liku jalanan yang berbukit-bukit terasa mendaki pegunungan.

Tak terasa aku telah sampai di tempat tujuan. Bis berhenti setelah aku memberi isyarat pada supir untuk menepi. Tepat di depan gang menuju rumah orang tuaku aku turun. Sejenak aku lihat hamparan sawah dari tepi jalan dan rindangnya pepohonan yang berdiri diatas gunung yang menjulang tinggi.

“Fajar…..! baru pulang…..?” Tanya seorang pemilik warung dekat rumahku.

“Iya Teh….!”.

“Cepetan ke rumah semuanya sudah pada nunggu…!!”.

“Hah…???!!”. Aku terperangah, terperangkap bingung mendengar pembicaraan Teh Yayah barusan. Aku tidak mengerti apa yang di maksud “Semua” dan “Sudah pada nunggu’.

Dari kejauhan terlihat suasana rumah tidak seperti biasanya setiap aku pulang, hanya nyanyian jangkrik dan kata yang menyambut kedatanganku. Kolam ikan yang keruh dan jarang dibesihkan serta hening ruangan yang tanpa penghuninya. Biasanya jam-jam begini orang tuaku masih berada di sawah.

Perlahan ku langkahkan kakiku mendekati rumah bercat putih, berkeramik merah. Disana didepan rumah itu orang-orang menyibukkan diri masing-masing, ada yang berpelukan, duduk-duduk di atas kursi, bersalaman, membawa kayu dan bamboo, dan membawa ember. Aneh, aku tidak mengerti apa yang sedang terjadi di rumah orang tuaku.

Dengan rasa penasaran dan ingin tahu, aku lebih mendekatkan diriku pada tempat itu.

“Lia, kakakmu sudah dihubungi…..??!” Tanya seorang perempuan berkerudung.

“Belum Wa……tadi sudah dihubungi lewat telephone tapi tidak nyambung terus….!” Aku mengenal gadis itu. Matanya terlihat merah seperti sudah menangis.

Baru saja aku membuka pintu pagar.

“Kak Fajar…….!!!!” Teriak gadis itu, berlari menghampiriku.

Dia jatuh dipelukanku.

“Ada apa Lia…..???” aku masih bingung melihat keadaan seperti ini.

“Kamu menangis…..?? dan …. dan  ini ada apa ramai seperti ini…..???!!”.

“Ibu kak…..Ibu……..!!!!”. seiring dengan tangisnya.

“Kenapa dengan ibu…….????!” Aku melepas pelukannya dan memegang kedua bahunya.

“Ibu baik-baik saja kan……???!!!”. Aku tatap wajahnya yang memerah. Dia hanya menangis.

Tiba-tiba kepalaku berpikiran yang aneh-aneh, tanpa ragu aku pun segera lari memasuki rumah, melewati orang-orang di depannya dalam keadaan masih bersepatu.

Aku kaget, didalam terlihat banyak orang yang sedang duduk membacakan Surat Yasin mengelilingi sekujur tubuh yang tak berdaya diselimuti dan ditutupi kain batik.

“Ibu…….!!!!!” Aku berteriak membuat keheningan orang-orang berbicara, spontan orang-orang di sekitarku menatap padaku.

“Ibu……!!!” aku masih menjerit histeris.

“Ibu….Bu bangun Bu….. lihat siapa yang datang, Fajar Bu…..!!! Fajar sudah pulang Bu. Fajar membawakan sesuatu buat Ibu”.

Aku membuka tasku dan mengeluarkan sebuah benda.

“Ini tropi. Fajar jadi juara lomba Bu, ini buat Ibu….Ibu bangun Bu, Bu, Bu…..!!!”.

Air mataku menetes, bersujud di samping kepala Ibuku yang sudah tak bernapas.

Adikku mencoba menenangkanku. Sepertinya aku sangat lemah melihat Ibuku tak berdaya. Nadi-nadiku berhenti berdenyut dan jantungku kembang-kempis. Sungguh kali ini aku bisa menangis di saat Ibuku telah tiada.

“Oh Tuhan……!! Kenapa kau secepat ini memanggil Ibuku, padahal engkau tahu aku belum sempat membahagiakannya. Kenapa…….????!!! Kenapa…..????!!!”.

“Sepertinya aku telah berdosa seumur hidupku tak pernah membasuh kakimu……!!!!”.

Oh Ibu…..

Dengarlah tangisan anakmu….

Yang memberkati do’a…….

Untukmu……..

Agar kau bahagia…….

Disana……

Ibu………………………

Purwakarta, 14 Maret 2010

Copyright © Ray Victory

Posted on March 14, 2010, in Cerpen and tagged , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. Subhanallah sungguh hebat perjuanganmu, Allah saja percaya akan ketangguhanmu menerima segala ujian.
    Percayalah Allah sayang engkau..

    Tak kuat akupun membaca tulisanmu..
    Memang bener kata temanku, jika kita ingin menulis maka jangan hanya sekedar menulis, tapi hidupkanlah tulisan itu. Seolah-olah tulisan itu mempunyai ruh di dalamnya. Pantas saja kamu mendapatkan kepercayaan menjadi juara pertama.

    Teruslah berkarya kawan, dan semoga Ibumu tenang di SyurgaNya. Amiin..
    salam kenal.

  2. Makasih atas komentarnya!
    Semoga itu bermanfaat!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: