Sampah Plastik = 100 Ekor Gajah

Oleh : Ray Victory

Ada hal menarik yang membuat saya ingin menuangkannya ke dalam tulisan. Gagasan ini muncul karena sekelompok orang yang memiliki jiwa peduli terhadap lingkungan dan alam.

Seebuah diskusi muncul saat seorang pemuda mendeskripsikan pengalamannya. Suatu hari dia pergi ke sebauh pameran di salah satu Universitas di kota kembang. Ada satu hal yang membuat menarik perhatiannya yaitu tentang seorang laki-laki yang seluruh tubuhnya dibaluti dengan pelastik, dia sedang berdiri mematung menyuarakan kepeduliannya dalam sebuah poster. Poster tersebut bertuliskan setiap hari Indonesia menggunakan kantong pelastik setara dengan 100 ekor gajah. Percisnya seperti itu dia mengutarakan ingatannya, dimana secara tidak langsung dia memberikan informasi bahwa Negara Indonesia berlatarbelakangkan alam merupakan Negara yang banyak memproduksi plastik. Secara logika kita dapat bayangkan jika dalam satu hari jumlah plastik yang digunakan sebanyak jumlah gajah 100 ekor tempat-tempat pembuangan sampah sudah menjadi gunung dalam satu tahun. Dari pengalaman ini kita dapat mengambil makna bahwa kita sedang dihadapkan pada sebuah problem tentang sampah.

Kita ketahui sampah pelastik merupakan sampah anorganik yaitu sampah yang sulit untuk diuraikan. Butuh berpuluh-puluh tahun plastik dapat terurai itu jika menguraiannya terjadi secara objektif. Di saat seperti ini plastik merupakan sampah yang membuat alam ini cepat rusak. Akibat dari membuang sampah yang sembarangan dapat menyebabkan banjir, munculnya berbagai penyakit dan kurang suburnya tanah.

Dalam kehidupan ini kita mengenal sampah itu dua yaitu sampah oraganik dan anorganik. Sampah organik adalah sampah yang cepat dan mudah diuraikan seperti makanan-makanan sisa yang terbuat dari tumbuhan, sedangkan sampah anorganik sejenis plastik. Kebiasaan masyarakat dalam memisahkan kedua sampah tersebut sangat sulit. Ini merupakan faktor kebiasaan manusia yang tidak peduli pada lingkungan padahal manfaat dari memilah-milih sampah tersebut dapat mengurangi pencemaran. Selain itu sampah yang sulit untuk diuraikan dapat diolah kembali.

Kembali ke pengalaman seorang pemuda di atas, seorang pemuda yang lain memberikan pendapatnya, sampah plastik merupakan masalah yang tidak aka nada habisnya, padahal ini merupakan masalah kecil, akan tetapi akibatnya berdampak besar. Melihat penomena kehidupan ini, kita bisa melihat dengan banyaknya sampah yang terkumpul di TPA (Tempat Pembuangan Akhir) itu sudah menjadi gunung. Hal ini tidak jauh dari dampak kehidupan manusia yang kura peduli terhadap lingkungan. Di sisi lain ternyta TPA banyak dijadikan tempat mencari sesuap nasi. Diamana orang-orang memungut sampah-sampah yang masih bisa dimanfaatkan untuk didaur ulang. Ternyata hal itu bisa memberikan sebuah maafaat pada pemulung bahwa sampah dapat memenuhi kebutuhan ekonomi.

Kemudian pemuda yang lain memberikan tanggapan. Kebanyakan orang dalam memisahkan sampah oraganik dan anorganik itu silit tapi terkadang kalupun ada yang sudah biasa memisahkannya, sampah anorganik seperti pelastik itu selau di bakar. Di Satu sisi pembakaran sampah bisa membuat polusi undara dan di sisi lain sampah juga dapat memberikan rezeki bagi orang lain. Apabila sampah dibakar bagaimana nasih pemulung yang banyak menggantungkan kehidupannya pada samapah itu?

Itu jika kita memandang dari segi ekonomi. Memang benar sampah bisa memberikan rezeki terhadap pemulung tetapi, kita seagai orang yang memiliki kepercayaan jangan pernah ragu tentang besar kecilnya rezeki manusia karena rezeki itu sudah ada yang mengatur. Kalau pun ada orang yang menggantungkan rezeki dengan memulung sampah itu karena jalannya sudah seperti itu. Sanggah seorang pemuda lain.

Memandang masalah ini dari segi agama. Annadofatul minal iman bahwa kebersihan itu sebagian dari iman yang mana bahwa membuang sampah adalah hal yang terkecil dari sebuah ibadah. Kebersihan dan kieindahan yang kita ciptakan biasanya dimulai dari hal yang terkecil, seperti kebersihan diri sendiri itu sudah termasuk ibadah. Apalagi kalu kita menjaga lingkunga ini dengan tidak membuang sampah sembarangan, mungkin ibadah ini akan lebih bersar.

Pemuda lain memberi pendapat. Memang plastik merupakan masalah yang bisa memberikan dapak yang besar. Dan ternyata dalam mengurangi penggunaan pelastik di kalangan masyarakat tidak mudah. Walaupun pemerintah sudah memberikan anjuran untuk memisahkan sampah oraganik dan anorganik. Jika kita melihat plastik dari segi sosial masyarakat ternyata sudah menjadi kebiasaan, sehingga sulit dalam menerapkan anjuran pemerintah. Sebagai pengalaman, saya membeli makanan ringan seperti gorengan, biasanya pedagang akan memberikan kita beserta bungkusnya, dan di situ selalu diberikankantong plastik. Padahal pada saat itu saya meminta untuk dibungkus menggunakan kertas bungkus saja, pedagang itu mengatakan “teu ngangge plastic mah teu sopan, Jang. Maenya ka nu meser teu masihan kaamanan pisan.” Nah, dari sebuah kalimat itu kita dapat menyimpulkan bahwa ternyata dengan tidak menggunakan plastik dalam transaksi, seperti mengurangi moral yang sudah melekat dalam kehidupan masyarakat. Dan biasanya kalau kita membeli makanan hanya menggunakan bungkus kertas saja, orang lain, tetangga atau teman dekat kita akan mengatakan “meni teu diplastik-plastikan acan. Na atuh pira plastik da moal matak ngabangkrutkeun kana dagangan!”. Itu hal yang bisa menguatkan ternyata dalam kontek sosial masyarakat plastik dapat menunjukan identitas moral.

Dari segi sejarah seorang pemuda lain berpendapat. Sebenarnya sudah seharusnya pemerintah yang menjadi kendali dalam mengendalikan sampah terutama pengurangan sampah plastik. Jika kita melihat sejarah bangsa ini ternyata plastik merupakan pengarus globalisasi. Kebiasaan masyarakat terdahulu kebanyakan untuk bungkus makanan masyarakat biasanya menggunakan daun untuk masyarakat tradisional dan kertas untuk masyarakat perkotaan. Seiring berputarnya zaman, penjajahan membawa pengaruh dalam menggunakan kantong plastik sebagai alat yang praktis dalam membawa barang terutama saat belanja. Padahal kalau melihat ke luar sana Negara lain seperti Amerika sudah menggunakan kantong kertas saat belanja. Dan ini membuat kita berpikir kembali kenapa Negara ini yang berlatarbelakangkan alam yang luas menggunakan alat atau benda yang bisa merusak alam itu sendiri, sedangkan mereka yang memiliki backround jauh dari natural menggunakan palastik itu sudah dikurangi. Intinya kenapa kita tidak mencoba kembali ke alam dalam artian membiasakan kembali penggunaan kantong ke seperti kita menggunakan daun dan kertas. Go nature atau go green sering kita temukan di bidang-bidang lain dalam pendauran ulang. Nah, dari situ kita mencontoh jadi setiap pedagang itu kembali ke kebiasaan jaman dalu.

Seorang pemuda lain memberikan masukan. Mungkin pandangan setiap orang dalam melihat hal ini berbeda-beda. Ada dari segi ekonomi, agama, sosial dan sejarah, semuanya memberikan tinjauan yang berbeda sehingga memberikan kita pengetahuan dalam memahami kontek ini. Kalau kita melihat ke dalam Al-Qur’an di surat Ar-Rum ayat 41, yang artinya “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia, Allah menghendaki agar mereka merasakan sebagian dari akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali ke jalan yang benar.” Kita ketahui sampah itu bisa membuat kerusakan pada muka bumi ini, seperti bencana banjir, munculnya berbagai penyakit dan kerusakan pada tanah. Al-Qur’an memberitahukan bahwa bencan yang terjadi di muka bumi ini karena perbuatan manusia itu sendiri.

Kita sebagai generasi muda dan beriman dituntut untuk menjaga dan melestarikan alam ini. Kalau kita menyarankan kepada pedagang untuk mengurangi pengeggunaan plastik secara langsung mungkin sulit kecuali pemerintah yang menetapkan. Bagi kita ya, hal yang mudah yaitu memulai dari diri sendiri seperti hal yang paling kecil yang dianjurkan itu tadi membuang sampah pada tempatnya. Dan untuk memulai bagaimana menjaga lingkungan kita ini kita kembali kepada kesadaran diri kita.

Ada satu hal yang membuat saya kagum dan mungkin ini bisa menjadi sebuah solusi. Melihat pengalaman saudara saya, jika berebelanja yang menggunakan kantong plastik biasanya kantong plastik itu tidak dibuang tetapi dikumpulkan, ditata dengan rapi, dan disimpan. Kemudian jika suatu hari kita membutuhkan bisa dipergunakan dengan baik dan tidak perlu membeli ke toko. Nah, dari situ kita bisa mencontoh dan menerapkannya pada kehidupan kita.

Seorang mahasiswa manajemen berpendapat. Kalau menurut saya di lihat dari segi manajemen, yang lebih baik adalah mengendalikan masyarakat oleh pemerintah. Berkaitan dengan kepeminpinan dalam manajemen itu sendiri bisa memulai dari atasan atau pimpinan kemudian merambat pada bawahan. Dalam hal ini pemerintah adalah lembaga yang tepat, karena pemerintah punya kekuasaan dan kewenangan sehingga masyarakat lebih peduli dalam memelihara lingkungannya.

Pemuda pertama mengambil kesimpulan dari semua pendapat teman-temannya. Ya, melihat era globalisasi seperti ini masalah selalu muncul di mana-mana dari hal yang terkecil sampai yang terbesar tidak akan ada habisnya. Karena hidup ini tidak akan terasa indah kalau tidak ada hitam dan putih. Terutama masalah yang baru saja kita bicarakan yaitu tentang penggunaan plastik. PlastiK sebagai sampah yang sulit untuk diuraikan dapat membuat berbagai masalah seperti banjir, sarang penyakit, dan mengurangi kesuburan tanah. Selain itu plastik juga ternyata bisa memberikan manfaat besar bagi sebagian kalangan. Berbagai sudut pandang ekonomi, agama, sosial, sejarah, Al-Qur’an, dan manajemen, memberikan pengetahuan yang luas kepada kita bahwa ternyata sebuah benda seperti plastik bisa diartikan berbeda-beda. Yang paling utama yang kita lakukan dalam diskusi ini mengambil dan menerapakan dalam kehidupan sehar-hari hal yang positifnya dan mencegah hal yang negatinya. Tentang sampah plastik yang telah kita uraikan barusan bahwa kita harus memisahkannya dan jangan pernah membuangnya sembarangan. Itu hasil yang kita dapatkan dari diskusi ini agar kita selalu manjaga dan memelihar alam ini sebagai tanda ibadah dan iman kita terhada Sang Pencipta.

Dari diskusi di atas kita bisa tahu sudut pandang sebuah benda dari kontek yang berbeda. Bisa memberikan manfaat atau malah memberikan akibat kita harus bisa menyikapinya dalam setiap bagian kehidupan. Karena arti hidup menurut diri kita belum tentu sama menurut orang lain.

Bandung, 25 Oktober 2010

Copyright © Ray Victory

Posted on October 25, 2010, in Artikel and tagged , , , , , , , , . Bookmark the permalink. 2 Comments.

  1. saya jadi ingin sekali bisa membuat perusahaan yg memproduksi sampah ramah lingkungan *hehe,tp masih mimpi yg sangat terlalu besar* hehehe😀, setidaknya niat, hihihi

  2. Mimpi yg bagus! walaupun kita belum bisa merealisasikannya setidaknya itu bisa menjadi prinsip kedepan dalam membangun perusahaan yang ramah lingkungn! Good luck!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s