Cerita Pagi di Atas Damri

Oleh : Ray Victory

Kulihat Darmi Elang-Cibiru mulai penuh, dari pada nunggu TMB lama dan pasti kebagian berdiri, aku pun tak ragu untuk menaiki mobil jaman tai kotok dilebuan itu. Mataku menjelajah mencari bangku yang kosong. Kudapat satu bangku kosong di samping seorang ibu setengah baya. Dia sibuk membereskan barang bawaannya saat ku berdiri member isyarat untuk bergeser. Namun dia malah berdiri memberikan ruang padaku untuk duduk di dekat jendela.

Selagi menunggu bis jalan kuluangkan waktu membaca novel “Beraja, biarkan ku mencinta” yang kuletakan dalam ranselku karangan “Anjar”. Setelah kursi penuh, bis pun melaju di jalur lambat jalan Soekarno-Hatta. Sesekali ku tatap ke luar banguna yang berdiri membisu, kendaraan yang berkejaran dan polisi mengatur lalu lintas.

“Dalam pikirku, ku bertanya, ‘Kucing’ ibu ini bawa kucing di tasnya, buata apa ya?”

Ku ingat cerita “Dia” tentang fobia sama kucing atau sepupuku yang suka maenin kucing sampai nangis-nangis digigit dan dicakarnya.

“Ah mungkin dia bawa dari rumah lain mau dipindahkan atau buat anaknya kali yang suka kucing”

Seorang kondektur berjalan dari depan meminta ongkos. Dalam sela-sela alur cerita yang ku baca kupersiapkan dua lembar kertas bergamabar patimura. Seorang ibu di sampingku memberikan selembar uang Rp 1000 dan logam Rp 500, seraya mengucapkan “Cigereleng” tempat yang menjadi tujuannya.

Kondektur mengelak “Kurang… kurang… dua ribu Damri mah” katanya menolak.

“Gak da receh. Cuma kurang lima ratus, deket ini Cigereleng” kata ibu itu membela diri.

“Euh.. Damri mah teu bisa ditawar, teu  ngarti pisan” meninggalkan kekurangannya tanpa ambil pusing.

Kejadian tersebut membuyarkan konsentrasiku, aku mendelik, melihat ibu itu komat-kamit berkomentar kotor seputar kata-kata kondektur barusan. Mungkin ibu ini baru awal naik Damri. Tebaku dalam hati.

Di tengan perjalanan dan rentetan kalimat yang ku baca tiba-tiba dia bertanya,

“Jam berapa sekarang?”

“Jam… setengah tujuh,” spontan ku jawab, seingat aku sebelum naik Damri ku lihat jam di HP 06.22 dan ku perkirakan saat itu jam setengah tujuh.

“Oh setengah tujuh…” dia kembali mengulang kata-kataku.

“Mana jamnya?”

“Ada di HP”

“Oh gak bawa jam ya”

Kuiyakan jawabnya, konsentrasi membacaku mulai sudah tidak terarah, apa lagi saat melihat kucing dalam tasnya mengeong dan masih menyimpan tanya.

Ku beranikan diri bertanya

“Ibu dari mana?”

“Dari Ujung Berung, mau ke Metro”

Aku berpikir “Cigereleng?” dan “Metro?” Ah mungkin Cigereleng dekat Metro. Ku tepis pikiran itu.

“Kenapa kucingnya dibawa?”

“Oh ini, ibu punya kucing, anakan tiga yang duanya mati dan ini tinggal satu lagi, ya ibu ajak jalan-jalan saja,” cerita dia sambil menunjukan hewan kecil berbulu hitam putih.

“Jalan-jalan?” kataku dalam kati “kucing diajak jalan-jalan? aku kira dibawa dari mana untuk anak kecil yang suka kucing.”

Aku perhatikan kucing itu, dia seperti mati tak bergerak sedikit pun.  “Aduh malang nasib mu ‘Meng’ tubuhmu di masuki keresek dan kepalmu menengadah di sela-sela sleting tas terbuka.

“Apa kata hatimu?”

“Meong” dia mengeong saat ibu itu membangunkan dari tidurnya.

“Ukhhh… aku kira kamu mati.”

Kukembalikan pandanganku pada buku yang ku pegang dan kucari sampai mana tadi aku baca.

“Kerja…?” tanya wanita pembawa kucing mengalihkan perhatianku.

“Kuliah”

“Dimana?”

“UIN cuma sementara ini kampusnya di Tadika Puri.”

“Dimana itu kampusnya?”

“Di SMK Tadika Puri, Metro.”

“Oh turun di Metro juga?”

“Iya”

“Bareng berarti turunnya.”

Kuanggukan kepala dan kusudahi gelik tanya dia yang membuat pagiku dapatkan kejadia unik dan tanda tanya. Ku tutup lembaran-lembaran buku, ku menatap jendela bis sudah sampai depan galeri indosat, “sebentar lagi sampai”.

Tepat di depan celter TMB, aku turun memburu langkah menaiki anak tangga jembatan penyebrakan. Saat ku berjalan di atas jembatan ku mencari sesosok wanita tua tadi dan dia terlihat sedang berdiri di samping trotoar, dengan memegang tas yang di dalamnya seekor kucing yang mengingatkanku pada cerita seseorang. Entah mau menyebrang atau menunggu angkutan lain.

Dalam benaku.

Ibu tua yang ribut dengan kondektur karena ongkosnya kurang rp 500 dan kucing dalam tas yang katanya ia sedang diajak jalan-jalan. Apa ya maksud dari semua ini? Aku tahu dan sering menyimpulkan dari setiap kejadian pasti ada hikmahnya baik itu buat pelakukany atau orang lain yang menyaksikannya. Namun sampai sekarang aku belum dapat yang pasti hikmah dari kejadia tadi apa? Yang ku pikir. Bayarlah ongkos sesuai tarifnya, apapun alasannya itu. Ayomi makhluk ciptaan Tuhan yang lain sebagaimana kita mengayomi sesama. Jangan sampe itu kucing mengungkapkan suara hatinya. “Saya senang diajak jalan-jalan oleh majika saya tapi saya tersiksa dimasukan keresek dan disimpan di tas.” Mepermainkan kucing saja bisa membuatnya sakit hati, apa lagi mempermainkan perasaan seseorang.

Bandung, 16 November 2011

“Suara hati kucing juga punya hati”

Posted on November 17, 2011, in Catatan Harian, Literary and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Comment.

  1. wah di tahun 2011 msh ada yg baca “beraja”?
    SURPRAISE…
    terima kasih yaaa

    nantikan “beraja” berikutnya😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s