Menebus Air Mata Ibu

Waktu ku berdiam diri menunggu mu pulang di ambang pintu dengan keringat yang menempel, lelah yang menguras dan haus yang menggerogoti kau datang dari ladang. Menyergap memeluk tubuhku menangis menumpahkan kerinduaan. Air matamu membasahi pipi membantuk sungai-sungai kecil mengalir di kerut wajahmu. Tak sadar air mataku tergenang dalam kelopak yang tak mampu membendung dan pada akhirnya ikut terbawa arus pilu.

Aku sadar ternyata begitu besar rasa sayang yang kau berikan selama ini. Kau selalu menangis dalam doa menyertai perjalanan hidupku. Terkadang aku sering lupa, memberi kabar pun aku tak pernah, mengatakan sayang serasa sulit dari pada ke seorang kekasih, sering kulakukan hanyalah meminta, malah aku merasa telah durhaka.

Saat ku mencium tanganmu melepas kepergiaanku kau selalu menatap binar beriring air mata dan doa. Dan saat ku telah pergi kau selalu bertanya-tany “selamatkah anakku di jalan?” Namun aku selalu lupa tak pernah memberi kabar lagi. Kini ku sadari saat ku mendengar namamu tubuhku selalu menggigil, hati pun lemah, dan air mataku menetes. Oh ibu inikah rasa rindu yang sesungguhnya kini baru aku rasakan. Teringat titah dan pepatahmu, teringat amanat dan doa-doamu.

Saat ku pergi ke tempat nan jauh melewati batas wilayah, kau berikan aku bekal, restu dan iringan doa. Aku duduk sendiri di dalam kereta tanpa ku kenali orang-orang di sekitarku. Hatiku lirih mengingat dirimu, dari kedua mata ini lagi-lagi menangis. Menangis karena aku harus pergi memperjuangkan kebahagiaan orang-orang yang mencintaiku, menebus butiran air matamu dengan sejuta kebahagiaan. Aku tahu setetes air matamu takan pernah terbalas namun aku selalu bersenandung dalam doa “Ya Allah tebuslah tetesan air mata ibuku dan semua pengorbanan yang dia berikan kepadaku dengan berjuta kebahagiaan meliputinya. Aku ingin selalu membuatnya tersenyun bahagia. Semoga setelah ini, besok, lusa, atau kemudian hari Engkau mengabulkan doa-doa yang aku panjatkan. Amin!”

“Selamat Hari Ibu”

Bandung, 22 Desember 2011

Anakmu

Posted on April 11, 2012, in Catatan Harian, RAY VICTORY. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: