Menjadi Insan Beriman

Oleh : Ray Victory

Terik matahari telah membakar sebatang kara yang kecil dan dekil makin tambah kujil. Dia belari-lari kecil memburu setiap kendaraan berhenti saat polisi merah menyala. Lantunan suara yang fales memberikan hiburan sesaat bagi para peselancar darat. Tangan kirinya mencekik leher dan yang satunya lagi menggelitik perut sehingga timbulah teriakan geli mengiringi bibir yang menari.
Tangannya menjulur terlentang saat orang itu menjatuhkan separuh dari hatinya yang tersentuh. Tak sedikit perjuangan yang ia korbankan demi membeli sesuap nasi untuk mengisi perut yamg kerempeng. Seberapa besarkah kira-kira jatah keringat yang dialirkannya. Siapa sih yamg peduli dengan nasibnya?
Ayat-ayat Allah terdengar mengudara menandakan bahwa waktu berbuka telah tiba. Perut yang kosong dan tenggorokan kering memanggil-manggil makanan. Lantas apa yang harus dijadikan tajilnya? Ditangannya hanya terkumpul logam yang tak jauh berbeda dengan jumlah jari tangannya.
Dia menatap ke arah sekumpulan orang yang sedang merumpuni gerobak es. Tak sadar air liurnya mengalir jatuh tepat pada logam-logam perak di tangannya. Adakah orang yang bisa membelikan secantil kolak untuknya?
Lamunannya ia tepis. Kakinya mengukur setiap jarak yang tak terkira. Mengantarkan tubuhnya pada gubuk tua yang berdiri dipinggir rel kereta.
“Bruak . . . !” Suara gebrakan pintu yang dibuka dengan tergesa-gesa.
Sesaat dia menatap kamarnya. Dia berlari menuju dapur. Matanya menjelajah kegelapan. Dibukanya penutup nasi yang nampaknya hanya tergampar piring-piring yang tanpa isi. Napasnya menghela. Ditatapnya poci yang berdiri di atas meja. Dia mengambil cangkir plastik, lalu menampani mulut poci yang semakin miring . . . miring . . . miring hinga penutupnya jatuh bergulir ke depan pintu. Dia teringat kalau di balik pintu itu ada sebuah harapan untuk mengobati rasa hausnya.
Terpaksa air ludahnya ia telan. Poci pun ia simpan. Diambilnya ember yang berdiri di samping tungku. Pintu dapur ia buka. Kakinya mulai meratapi jalan setapak menuju sumber air di belakang rumahnya. Embernya ia simpan lalu tangannya mengambil timbaan, kemudian menurunkannya ke bawah. Saat langit mulai gelap dia mencoba menatap ke bawah menurunkan katrol. Ia goyang-goyang karet timbaannya. Setelah volume air yang membebaninya terasa berat, ia tarik katrol itu perlahan.
Tangannya bergetar. Tenaga yang masih tersisa ia keluarkan semua demi mendapatkan setimba air. Jari-jari tangannya mencengkram erat bergiliran menarik beban.
Ember itu baru terangkat setengah dari ketinggian sumur tersebut. Ia berhenti sejenak. Mengumpulkan tenaganya yang masih tersedia.
Kembali mengerahkan seluruh kekuatannya. Yang akhir kemudian ia dapat merasakan dinginnya air sumur yang mengalir dalam kerongkongannya menuju perut yamg kempis. Dia menarik napas dalam-dalam. Walau hanya dengan air mentah, dia dapat menikmati segarnya perasaan setelah menahan haus dan lapar dari mulai terbit fazar hingga terbenamnya sang surya yang membakar jiwa. Setelah tenaganya pulih kembali dia mencoba menimba air lagi sampai cukup ia gunakan untuk mandi kecil.
“Samad . . . !” terdengar dari ambang pintu. Sesosok pengangguran sedang berdiri menatapnya.
“Nimba yang banyak gue mau mandi!”
Samad tidak berbicara. Dia hanya berpikir pasti si tua bangka itu bau bangke busuk. Karena hobinya cuma kelalapan di malam hari dan ngorok di siang hari. Dasar kalong. Dengan tenagannya yang tersisa Samad mengisi bak mandi yang ada di samping sumur itu sampai penuh. Agar tenaganya pulih kembali ia pun mungguyur dirinya.
***
Di dalam kamar samad merebahkan dirinya sejenak meredakan rasa cape bercampur haus dan lapar yang masih menghantuinya. Pikirannya teringat dengan si kucing. Celengan kecil. Tempat menimbun uangnya. Dia mengambil kepingan hasil ngamennya untuk memberi makan si kucing. Samad berpikir dua kali.
“Mad . . . ! Samad . . . !” Suara bapaknya kembali terdengar di gendang telinganya. Samad buru-buru menyembunyikan si kucing di balik bantal.
Tampak bapaknya masuk kamar Samad sengan sebatang serutu di mulutnya. “Mana duit hasil ngamen lu? Dapet berapa?”
“Cuma tiga ribu, pak!” jawab Samad ketakutan.
“Alah elu udah berani bohong sama orang tua ya. Mana!” Dia menyentak.
Samad terpaksa mengeluarkan si kucing dari umpetannya.
“Gue pinjem dulu ntar kalau menang gue bayar.” Jelasnya menarik benda itu.
“Jangan diambil, pak! Ini buat Samad sekolah. Samad pengen sekolah kaya temen-temen Samad.”
Dia mengisap rokonya. “Alah . . . mana cukup uang segini buat sekolah. Hari gini sekolah murah. Mana ada!” mengguncang-guncangkan benda yang terbuat dari tanah liat itu. “Malahan cuma buang-buang duit doang. Syukur-syukur nanti lu pinter. Ah, paling juga sama kaya anak-anak sekarang bisanya cuma maen-maen aja, cuma minta, nyusahin orang tua.” Ucapnya ceplas-ceplos.
“Tapi Samad akan belajar sungguh-sungguh kok!”
“Alah ngebantah aja luh.” Mengepulkan asap rokok.
“Ya udah, tapi uangnya jangan dipake judi ya, pak! Nanti kalah lagi.”
“Goblok lu!” rokonya jatuh. “So, nasihatin lagi. Ya, gimana mau menang kalau elu ngedoainnya kalah. Mendingan sekarang lu mantog sana cari duit.” Tunjuknya ke luar kamar sambil mengambil rokoknya yang tadi jatuh.
“Tapi . . .” Samad tak dapat melanjutkan ucapannya.
“Alah. . . locot luh!” Sentaknya jengkel.
Samad langsung mampret ke luar kamar dengan membawa senjata penakluk para pendengar lantunan suara jeleknya. Gitar kecil yang selalu ia ketangtang-ketenteng merupakan satu-satunya harapan yang membuat ia bertahan hidup. Karena bapanya, bukannya setiap hari memberikan makan malah memanfaatkannya untuk nyari modal judi.
Terkadang Samad senang kalau kalau bapaknya menang malahan modal yang awalnya tidak seberapa bisa kembali plus bunga yang berlipat ganda. Namun sekarang ia sudah sadar bahwa apa yang dilakukan bapaknya merupakan perbuatan yang menyimpang.
“Preekk. . . !!” Suara pecahan keramik terdengar dari kamarnya. Langkah Samad terhenti. Dia menyadari si kucing telah hancur lebur, mati, pergi tak mungkin lagi kembali. Air matanya berlinang, cita-citanya yang selama ini ia tunggu-tunggu. Harus dimulai lagi dari nol.
Samad berjalan menyusuri kegelapan malam. Meratapi setiap langkah kakinya yang terus dibayang-bayangi si kucing. Teman sejatinya. Amarah bapaknya masih mengiang di telinga. Walaupun hatinya telah teriris tapi, dalam benaknya tak ada rasa dendam. Karena suara hatinya menginginkan bapanya bisa hidup bahagia walau cita-citanya harus ia korbankan.
***
Orang-orang berkeliaran di malam yang sejuk. Kendaraan lalu lalang dari segala arah. Samad masih setia ngamen di perempatan jalan. Menunggu hijau berubah menjadi merah menyala mengomando mobil dan motor berhenti lalu ia mulai bernyanyi. Samad mendekati avanza, kemudian memainkan dawai di suasana yang ramai dengan dialuni lagu musisi Ahmad Dani.
“Malam ini ku sendiri . . . Tak ada yang menemani . . . ”
Kaca mobil terbuka sesosok pria memberikan selembar kertas bergambar Patimura. Samad berhenti menyanyi.
“Terima kasih, pak!” ucapnya.
Tiba-tiba. “Eh . . . eh . . . tunggu dulu!” seseorang dari samping bapak itu menahannya.
“Sini dulu uang yang tadi mana?” kata orang itu. “Enak aja pengamen dikasih segitu.” Samad mengembalikan uangnya dengan malu.
“Nah, ini baru buat seorang pengamen kaya kamu!” sebuah kertas berwarna merah berlukiskan Ir. Soekarno dan Moch. Hatta tergenggam ditangannya.
“Makasih, bu, pak! Semoga selamat sampai tujuan.” Balas Samad tanpa pikir panjang.
Lampu hijau menyala. Klaksound kendaraan di belakangnya saling berteriak memburu segera maju. Mobil itu pergi takan kembali. Tapi, Samad berharap ada orang yang seperti mereka lagi. Akhirnya dia mendapat rezeki buwat membeli nasi. Sebuah kehormatan bagi seorang pengamen.
***
Samad tiba di halaman gubuk tuanya yang remang-remang dengan cahaya lampu pijar. Perlahan ia membuka pintu menahan agar tidak ada yang mendapatinya. Sepertinya bapaknya sedang tidak ada di dalam. Biasa pergi main judi. Samad pun merasa tenang disaat lelahnya menggerogoti. Ia langsung menyantap makanan yang ia beli tanpa basa-basi. Perut kenyang tidur pun nyenyak. Di benaknya hari itu bagaikan malaikat telah memberi secercah kebahagiaan.
Di atas kasur yang bau tak sedap Samad terlelap dengan ditemani radio butut peninggalan kakenya.
Dini hari menjelang sahur Samad mendengarkan radionya yang sejak malam terus menyala. Pikirannya berkelana merenungkan setiap kata yang terucap dari seorang ustad yang suaranya disertai gemuruh tak jelas.
Kelihatannya Samad meneteskan air mata. Ceramah itu mengetuk hatinya, baru ia sadari dan ia ketahui bahwa ibadah puasa yang selama ini ia jalani sia-sia dimata Allah. Puasanya hanya menahan hasus dan lapar. Karena selama ini ia tak pernah menunaikah ibadah shalat. Begitu haru mendengar ucapan itu. Matanya bergemerincik air hujan. Harapan yang selama ini ingin menyempurnakan hidupnya ternyata masih ada kewajiban yang terlewati.
“Bruuk . . . !” Pintu rumahnya ada yang mendobrak.
Samad loncat dari tempat tidurnya tergesa-gesa melihat apa yang terjadi. Dia dapati bapaknya sudah terdampar di atas kursi. Mulutnya komat-kamit ngelantur tak jelas, tangannya mencekik botol dan menghambur-hamburkan uang yang sama dengan hasil mengamennya.
“Hahaha. . . ! Liat ni kali ini gue menang. Hahaha . . . !” Tawanya terhenti saat tatapan mereka saling bertemu.
“Tuh, ambil semau lu!” Menunjuk pada uang yang berhamburan. Kemudian meneguk sebotol arak yang dipegangnya.
Samad hanya terdiam disaat rasa kantuknya masih membuntuti, dia tersadar apa yang sedang ada dihadapannya. Dalam hatinya ada rasa senang melihat uang yang berhamburan di lantai tapi, sayang semuai itu sudah terlambat. Ia tepis pikiran kotornya. Walaupun napsunya membangkang tetapi tekadnya sudah tersulam rapih.
Samad beranjak dari tempat itu. “Mau kemana lu?” panggil bapaknya.
Samad membalikan pandangannya. “Shalat” jawabnya to the point.
“Maksud lu tobat?! Hah . . .ha. . .ha. . .!”
Samad pergi. Tak peduli apa yang dikomentari bapaknya. Yang pasti dalam hatinya sesosok malaikat telah menyampaikan ilham.

Purwakarta, 27 September 2008

Copyrught ©Ray Victory

Posted on May 22, 2012, in Cerpen and tagged , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s